Skip to main content

Melihat Indahnya Pelangi di Curug Citambur, Cianjur

Jawa Barat memiliki banyak wisata alam yang sangat mempesona, diantaranya ada yang sudah dikelola tapi ada juga yang belum dikelola dengan baik dan masih alami banget. Salah satunya objek wisata air terjun. Orang sunda lebih biasa menyebutnya “curug” daripada air terjun.

Saya sudah beberapa kali jalan-jalan ke curug yang ada di Jawa Barat, khususnya yang ada di sekitaran Bandung. Mungkin anda sudah pernah dengar curug cimahi atau curug tilu leuwi opat, karena memang curug ini dikelola dengan baik. Tapi, kali ini saya akan berbagi perjalanan saya ke curug citambur.

Curug citambur merupakan contoh curug yang masih alami dan belum dikelola baik sebagai objek wisata. Letaknya di perbatasan Ciwidey dan Cianjur tepatnya di Desa Karang Jaya, Kec. Pagelaran, Cianjur Selatan.

Saya berangkat ke curug citambur bersama teman-teman santri pondok mimkho dalam rangka rihlah dan tadabur alam. Memang sudah agenda rutin setiap setahun sekali atau setahun dua kali kami mengadakan rihlah. Waktu itu kami berangkat dari Dago hari sabtu sore, kami berkunjung ke rumah ustadz kami dulu di Ciwidey. Biasanya kalau ke ciwidey pasti singgah dulu di rumah pak ustadz yang satu ini, namanya ustadz Hilman 🙂 Kami semua sekitar 40an orang bermalam di rumah beliau. Malam hari setelah sholat isya kami isi dengan mendengar tausyiah dari guru-guru kami.

Setelah sholat subuh, beberapa dari kami jalan-jalan ke Taman Kota Ciwidey (takoci) buat ngebalok, maksudnya makan kue balok. Kue Balok merupakan salah satu makanan khas Ciwidey. Cara pembuatannya bisa dibilang unik, karena dibakar di atas bara api. Di Taman Kota Ciwidey, ada penjual kue balok yang sudah lama ada dan turun-temurun dari keluarganya, mungkin penjual yang sekarang adalah generasi yang ketiga.

Meskipun masih pagi buta, masih remang-remang, masih dingin-dinginnya, tapi sudah banyak orang yang nongkrong di penjual kue balok ini. Memang sih rasanya enak, lebih enak lagi kalau yang masih setengah mateng dan anget-anget. Harganya masih murah dan cukup mengenyangkan buat cemilan di pagi hari.

kue balok taman kota ciwidey
http://raniekahardiyanti.blogspot.co.id/

Setelah puas makan kue balok dan ngopi, kami balik lagi ke rumahnya Pak Hilman buat beres-beres persiapan ke citambur dan tentunya sarapan karena makan kue balok tidak dihitung sarapan 😀

Perjalanan dimulai…
Sekitar jam 7an kami mulai berangkat ke Citambur. Dari Ciwidey kami berangkat ke arah Rancabali, di tengah perjalanan kami semua mengisi bensin full karena perjalanan akan panjang dan tidak akan ada lagi SPBU resmi. Setelah masuk kecamatan Rancabali, ada pertigaan, nah di sana kami belok kanan menuju Desa Cipelah melewati perkebunan Sinumbra.

Jalanan menuju kantor dan pabrik teh perkebunan Sinumbra relatif cukup baik, tapi banyak turunan dan jalan yang berkelok-kelok. Di kiri-kanan jalan kami disuguhi pemandangan hamparan kebun teh yang luas. Sejauh mata memandang, semuanya hijau.

perjalanan di sinumbra menuju curug citambur
dok. pribadi

Setelah keluar dari komplek pabrik teh perkebunan sinumbra, jalanan menjadi sempit dan rusak. Sebagian lapisan aspal sudah menghilang dan diganti dengan bebatuan. Nah, setelah melewati PLN Desa Cipelah, ternyata kondisi jalanan bisa dibilang lebih rusak lagi. Turunan panjang dan curam, jalan yang berupa tanah dan batu-batuan besar cukup menyulitkan laju motor kami. Apalagi saat itu sedang musim penghujan, kondisi jalanan memang banyak yang rusaknya.

Memasuki Desa Cisabuk, jalanan akan didominasi oleh tanjakan dan turunan yang cukup curam dengan bebatuan besar dan lumpur atau tanah. Dari informasi warga sekitar, kami baru tahu kalau sebelumnya ada gempa (lini) di daerah Tasik dan Cianjur. Beberapa turunan memang ada yang amblas banget dan malah dilapisi dengan sekam padi.

Tadinya estimasi kami, bisa sampai ke tempat tujuan dalam waktu satu jam. Tapi karena kondisi jalan yang rusak di mana-mana, jadi molor sampai 3 jam. Di tengah perjalanan sempat juga terpikir untuk balik lagi ke ciwidey, tapi ya nanggung.

Di setiap turunan dan tanjakan ada warga sekitar yang menjaga, karena memang jalannya benar-benar curam. Apalagi pas turunan yang dilapisi sekam padi, serasa main seluncuran tapi pake motor. Kalau tidak seimbang bawa motornya, bisa oleng dan jatuh. Mungkin bagi anda yang mau berkunjung ke curug citambur, sebaiknya menggunakan motor trail saja.

Memasuki daerah kabupaten Cianjur, kondisi jalanan sudah cukup baik dan beraspal, tidak berlumpur atau batu-batuan besar. Setelah menempuh perjalanan yang luar biasa repotnya, akhirnya kamipun sampai. Lokasi Curug Citambur persis berada di seberang kantor Desa Pasirkuda, Cianjur.

gerbang curug citambur
https://rhinochofathanoilham.wordpress.com

Tiket masuknya waktu itu cuma Rp. 3000 per orang. Beberapa meter dari pintu masuk curug citambur, ada sebuah danau alami kecil, warga setempat biasa menyebutnya Rawa Lewi Soro. Danau ini dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk pengairan sawah dan kebutuhan air lainnya.

Selanjutnya kami memarkirkan motor-motor yang jaraknya kira-kira 500 meter dari pintu masuk. Jalan menuju tempat parkir pun masih menggunakan batu-batuan, belum di hotmix. Dari tempat parkir saja hembusan airnya sudah terasa, padahal masih 100 meter lagi ke lokasi curug.

Kondisi curug citambur masih sangat alami, fasilitas umum pun bisa dibilang tidak ada. Waktu itu cuma ada warung di dekat pintu masuk atau di depan Rawa Lewi Sori. Curug citambur termasuk salah satu air terjun tertinggi ke-7 di Jawa Barat. Aliran airnya berasal dari sungai yang mengalir di Gunung Gedongan melalui perkebunan teh Citambur.

air terjun curug citambur
infobdg.com

Asal usul nama curug citambur ada dua versi. Pertama, karena jatuhnya air terjun mirip suara tambur atau gendang, apalagi dulu volume air terjun jauh lebih besar dari yang sekarang dan kolamnya juga cukup luas. Jadi setiap air terjun yang jatuh menimpa kolam suaranya bergedebum seperti suara tambur.

Versi yang kedua didasarkan pada legenda yang hidup di masyarakat sekitar curug citambur. Katanya dulu di daerah itu, tidak jauh dari lokasi curug ada Kerajaan Tanjung Anginan. Rajanya suka mandi di curug dan setiap mandi ke curug selalu di jaga oleh pengawal kerajaan. Para pengawal ini membunyikan suara tambur sebagai tanda bahwa raja sedang mandi di curug dan tidak boleh ada warga yang mendekat. Nah, suara tabuhan tambur ini terdengar ke desa-desa sekitar curug, jadilah masyarakat menyebutnya curug citambur.

pesona curug citambur ciwidey
http://curugcitambur2.blogspot.co.id/

Waktu itu kami tidak turun ke bawah air terjun atau ke kolamnya, kata penjaga sih bahaya. Jadinya kami cuma foto-foto dari atas bukit saja. Sempat juga beberapa dari kami naik ke tebing yang agak tinggi untuk melihat pemandangan yang lebih wah, tapi disuruh turun lagi sama bapak penjaga, katanya khawatir jatuh kebawah. Ya..memang lumayan curam sih tebingnya, ditambah lagi hembusan angin dan air yang kenceng dari curugnya.

Kebetulan sekali saat itu kami bisa melihat pelangi tepat di bawah air terjun. Gemercik suara hembusan air, alam yang hijau dan munculnya pelangi semakin menambah eksotisme pemandangan curug citambur.

pelangi di curug citambur cianjur
dok. pribadi

Tidak afdhol kalau ke curug tapi tidak mandi, karena tidak bisa mandi di kolam bawah air terjun, akhirnya kami mencari aliran sungai yang aman untuk main air. Lokasinya kira-kira 500 meter dari air terjun.

Inilah foto beberapa di antara kami, dari sini saja hembusan airnya sudah cukup kuat, bisa bikin baju basah kuyup.

santri mimkho di curug citambur cianjur
dok. pribadi

******to be continued********

Informasi Penting :
Rute curug citambur bisa ditempuh lewat Ciwidey, Bandung atau dari Kota Cianjur. Sebaiknya anda menggunakan motor trail, atau jika menggunakan mobil pribadi sebaiknya lewat jalur Cianjur saja karena jalan menuju curug citambur dari arah ciwidey tepatnya di Desa Cipelah dan Desa Cisabuk cukup ekstrim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *