Mengulas Lebih Dalam Apa Itu Skizofrenia Dan Cara Mengatasinya

Posted on

Sering muncul pertanyaan dari para masyarakat pada umumnya yaitu apa itu skizofrenia. Karena masih banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang penyakit yang satu ini. Skizofrenia merupakan gangguan yang terjadi pada mental seseorang. Secara garis besar penyakit skizofrenia ini bisa mengganggu proses berpikir sehingga pikiran Anda menjadi berantakan.

Orang yang mengalami penyakit ini akan kesulitan untuk membedakan situasi kenyataan dengan khayalan. Seseorang yang menderita skizofrenia akan kesulitan untuk mengatur perilakunya sehingga akan cenderung sulit mengontrol emosi atau juga hasrat.

Apa Itu Skizofrenia Dan Cara Mengatasinya

apa itu skizofrenia_1

Penyakit skizofrenia bisa disembuhkan jika mengkonsumsi obat secara rutin dan melakukan terapi. Berikut beberapa obat yang bisa dikonsumsi untuk menyembuhkan skizofrenia.

  • Cariprazine
  • Olanzapine
  • Iloperidone
  • Ziprasidone
  • Quetiapine
  • Aripiprazole
  • Lurasidone
  • Clozapine
  • Asenapine
  • Paliperidon
  • Risperidone
  • Brexpiprazole

Opsi obat-obatan untuk mengatasi Skizofrenia serta cara mengatasi skizofrenia tanpa obat-obatan akan dibahas juga dalam artikel ini.

Skizofrenia hebefrenik merupakan jenis penyakit kejiwaan yang sudah kronis atau serius. Dimana penderita penyakit ini akan kesulitan untuk beraktivitas atau melakukan suatu pekerjaan. Penderita gangguan ini akan sulit untuk bersosialisasi dan umumnya akan memiliki perilaku yang aneh. Untu lebih jelasnya, yuk ikuti pembahasan tentang Skizofrenia hebefrenik di bawah ini.

Skizofrenia Hebefrenik Adalah Subtipe Paling Berbahaya

Skizofrenia hebefrenik adalah

Pengetahuan masyarakat tentang penyakit gangguan mental relatif masih minim sehingga sedikit sekali yang mengetahui tentang skizofrenia. Membicarakan tentang penyakit tersebut, skizofrenia Hebefrenik adalah perilaku lebih lanjut yang ditunjukkan oleh penderita skizofrenia sebagai efek pengobatan yang kurang efektif atau tidak adanya motivasi pribadi yang bersangkutan untuk sembuh.

Definisi Skizofrenia Hebefrenik

Secara teknis, Hebefrenik merupakan subtipe dari penyakit skizofrenia. Tidak banyak diketahui bahwa skizofrenia sendiri memiliki lima subtipe penyakit dengan tonjolan perilaku berbeda yang ditunjukkan oleh pasien. Hebefrenik sendiri mengacu pada mitologi Yunani, yaitu Hebeos atau anak Hera, salah seorang dewi berpengaruh. Anak lelaki tersebut dikisahkan melakukan pemberontakan hebat menjelang masa pubertasnya.

Lalu, apa hubungan mitologi Yunani tersebut dengan penyakit Skizofrenia sehingga dijadikan sebagai nama subtipe gangguan kemampuan berpikir tersebut? Hal itu mengacu pada penderita Skizofrenia Hebefrenik yang menyerang pasien pada rentang usia 15-25 tahun di mana mereka kehilangan logika berpikir dan berperilaku menentang pada lingkungan sekitarnya sebagaimana tengah mengalami pubertas.

Gejala Skizofrenia Hebefrenik

Skizofrenia hebefrenik adalah 2

Untuk mengidentifikasi seseorang mengidap subtipe skizofrenia yang satu ini, maka wajib untuk memperhatikan gejala-gejala yang muncul dari penderita sebagai berikut :

  • Penderita kehilangan kemampuan untuk fokus dan berpikir, terutama untuk hal-hal yang menyangkut sekolah dan pekerjaan. Apabila ditanya oleh orang lain akan penyebabnya, mereka akan mengatakan tidak memiliki motivasi untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan tersebut.
  • Gejala selanjutnya dari skizofrenia Hebefrenik adalah kecenderungan menarik diri dari aktivitas sosial secara ekstrem. Penderita lebih suka menyendiri dan bila seseorang berusaha untuk mengusiknya, ia akan menampakkan reaksi yang agresif dan tidak terkendali.
  • Kebiasaan berbohong namun tidak bisa merajut logika hingga dengan mudah ditemukan celah pada perkataan yang dilontarkan juga merupakan gejala subtipe skizofrenia yang satu ini. Semula mereka lebih memilih tidak terlibat dalam diskusi, namun semakin parah kondisi penderita, ia akan mulai mengarang cerita dan secara konstan membuat kebohongan.
  • Penderita skizofrenia Hebefrenik juga kehilangan kemampuan untuk mengekspresikan diri dengan tepat. Contohnya, saat situasi sedang berduka, ia justru tertawa. Sedangkan ketika orang lain bersuka cita, ia justru menunjukkan wajah tanpa ekspresi sama sekali.
  • Gejala lainnya adalah sikap abai yang berlebih pada diri sendiri. Pengidap subtipe skizofrenia ini cenderung tidak peduli pada kebersihan dan perawatan diri. Ia juga senang melakukan aktivitas berbahaya dengan tujuan menyakiti diri sendiri.
  • Inkonsistensi dalam produktivitas juga termasuk dalam kriteria skizofrenia Hebefrenik. Dalam satu waktu, pasien dapat tiba-tiba berperilaku sangat aktif, namun sesaat kemudian kehilangan keinginan untuk melakukan apa pun, bahkan aktivitas ringan sekalipun.

Penyebab atau Pemicu Skizofrenia Hebefrenik

Skizofrenia hebefrenik adalah 4

Untuk penyebab dari subtipe skizofrenia ini mayoritas dipicu oleh insiden traumatik atau dalam kondisi ini disebut post-traumatic syndrome disorder—gangguan yang timbul sebagai efek kejadian traumatis. Penderita tidak berkonsultasi dengan tenaga ahli untuk menghilangkan rasa trauma tersebut hingga kemudian memicu munculnya skizofrenia. Insiden tersebut diperkirakan berkaitan dengan pengalaman tidak menyenangkan dalam lingkup sosialnya.

Subtipe skizofrenia yang satu ini menyerang pasien dalam usia produktif sehingga menimbulkan efek destruktif terhadap masa depan penderita. Ditambah lagi, sikap agresif yang ditunjukkan oleh pasien skizofrenia Hebefrenik juga lebih serius sehingga berpotensi membahayakan penderita sekaligus orang-orang di sekitarnya. Dapat disimpulkan bahwa skizofrenia Hebefrenik adalah subtipe skizofrenia yang paling berbahaya dan perlu segera mendapatkan penanganan yang tepat.

Berikut cara mengatasi skizofrenia tanpa obat-obatan

Selain obat-obatan kimia yang bisa Anda konsumsi untuk mengobati penyakit skizofrenia, ternyata ada juga cara lain untuk mengatasinya. Apa saja caranya, simaklah ulasan berikut.

  • Terapi elektrokonvulsif

Jenis terapi ini merupakan yang paling efektif untuk menghindari rasa ingin bunuh diri atau gejala depresi berat yang lainnya. Terapi ini harus dilakukan dengan intens selama 2-3 hari dalam seminggu dan harus dilakukan dalam 4 minggu berturut-turut.

  • Terapi perilaku

Terapi ini dilakukan agar penderita mampu melatih perilakunya dan mampu mengendalikan diri dengan baik. Hal tersebut juga nantinya akan berpengaruh terhadap pengendalian pikirannya. Dengan terapi yang cukup lama maka bisa melatih kemampuan otak penderita untuk kembali normal.

  • Psikoterapi

Terapi ini dilakukan untuk membantu penderita agar mampu mengendalikan gangguan yang terjadi pada dirinya. Secara tidak langsung terapi ini dilakukan untuk mengembalikan proses berpikir sedikit demi sedikit. Namun harus tetap diimbangi dengan konsumsi obat-obatan. Bahasan lebih lengkap silahkan baca di sini Cara Mengatasi Skizofrenia Tanpa Obat-obatan Yang Sangat Efektif.

Gejala ketika seseorang menderita skizofrenia

apa itu skizofrenia_2

Jika sudah mengetahui apa itu skizofrenia, sekarang lanjut ke beberapa gejala ketika orang mulai menderita skizofrenia. Kondisi psikis orang akan berbeda-beda dan mungkin akan menunjukkan gejala yang berbeda pula. Untuk itu sebaiknya Anda memahami apa saja gejala umum dari orang yang menderita skizofrenia. Berikut ulasannya.

  • Gerakan berbeda

Orang yang mengalami gejala gangguan ini akan sering terlihat gelisah. Biasanya penderita akan mengulangi gerakan yang sama berkali-kali. Bahkan suatu waktu penderita bisa diam saja dalam beberapa jam.

  • Pikiran kacau

Penderita gangguan ini akan cenderung sulit berpikir dan memiliki pikiran kacau. Sehingga ketika diajak berbicara maka penderita tidak bisa memahami dengan baik. Begitu juga dengan apa yang dikatakannya tidak bisa dipahaminya dengan benar.

  • Sulit berkonsentrasi

Orang yang mengalami gangguan ini akan sulit fokus terhadap suatu hal karena proses pemikirannya akan berantakan dan tidak mengetahui kemana arahnya. Biasanya penderita akan semakin stres jika dipaksa untuk berkonsentrasi pada suatu hal.

  • Halusinasi

Perilaku meyakini, mendengar, atau melihat sesuatu yang tidak nyata atau tidak pernah ada. Misalnya penderita sering mendengar suara-suara dari orang yang dikenalnya. Namun padahal tidak ada yang mengajaknya bicara atau mengganggunya.

  • Delusi

Hal ini merupakan bentuk sebuah keyakinan pada sesuatu hal yang salah. Biasanya gejala ini langsung terlihat dari perilaku penderitanya. Misalnya keinginan yang besar untuk bunuh diri. Padahal hal tersebut jelas salah.

Memahami Perbedaan Psikosis dan Skizofrenia

perbedaan psikosis dan skizofrenia 3

Setelah mengetahui apa itu skizofrenia, Anda juga harus memahami tentang perbedaan psikosis dan skizofrenia. Membedakan penyakit gangguan psikologis memang cukup sulit. Terutama mengenali perbedaan psikosis dan skizofrenia. Sehingga, wajar bila banyak orang bahkan menganggap bahwa kedua penyakit tersebut sama. Padahal, psikosis dan skizofrenia memiliki deskripsi yang berbeda meskipun sejatinya kedua penyakit tersebut memiliki ikatan yang kuat. Berikut ini ulasan lengkap tentang kedua penyakit tersebut.

Agar Anda tidak terbalik atau salah dalam menafsirkan suatu penyakit. Berikut adalah perbedaannya.

Mengenal Psikosis ; Akar Berbagai Penyakit Gangguan Pola Pikir

Sejatinya, psikosis merupakan kondisi di mana seseorang mengalami gangguan psikologis yang menimbulkan delusi dan halusinasi. Delusi merupakan kondisi di mana seseorang meyakini hal yang salah sehingga menggiring pada keyakinan tidak benar, sedangkan untuk halusinasi adalah situasi di mana seseorang mengalami peristiwa yang tidak nyata, namun kelima panca inderanya menerima hal tersebut sebagai peristiwa yang sebenarnya.

Kedua situasi tersebut berdampak pada gangguan berpikir penderita sehingga lambat laun kehilangan kemampuan untuk membedakan imajinasi dan realita. Mereka kemudian cenderung mengalami ketakutan berlebih, berperilaku impulsif, mengasingkan diri dari lingkungan sosial, serta berisiko kehilangan ingatan. Keadaan lanjutan dari psikosis inilah yang mengantarkan pasien pada penyakit lain seperti bipolar, obsesif kompulsif, dan skizofrenia.

Gangguan ini hanya diderita oleh seseorang yang mengalami halusinasi sesaat. Sehingga dokter harus melakukan pemeriksaan fisik, kejiwaan dan riwayat obat-obatan. Gangguan ini dapat terjadi karena adanya keadaan tertentu seperti terlalu stres atau depresi. Namun gangguan ini tidak membahayakan dan bisa segera disembuhkan melalui pemeriksaan.

Skizofrenia Sebagai Efek Lanjutan dari Psikosis

Psikosis yang dibiarkan atau tidak segera ditangani kemudian membuat pasien mengidap penyakit gangguan pola pikir lain dengan tingkat yang lebih berbahaya. Sebagaimana telah sedikit disinggung di atas, salah satunya adalah skizofrenia. Dalam fase skizofrenia, penderita psikosis mengidap delusi dan halusinasi yang lebih parah di mana kemudian membuatnya mengalami paranoid atau ketakutan berlebih hingga kehilangan kemampuan berpikir.

Gangguan yang ditandai oleh respon emosional yang kurang baik. Gangguan tersebut dapat memperburuk presepsi dan merusak pola pikir. Gangguan ini terjadi kurang lebih 6 bulan sehingga orang yang mengalami gangguan ini akan memiliki kesulitan untuk bersosialisasi dan bertindak secara logis. Gangguan ini sudah sangat serius dan kompleks.

Perbedaan psikosis dan skizofrenia lainnya adalah penderita skizofrenia mulai kehilangan kontrol akan kemampuan otak untuk memilah informasi yang berasal dari khayalan atau memang fakta. Secara perlahan, hal tersebut mengakibatkan perubahan drastis pada perilaku penderita di mana risiko untuk melukai diri sendiri atau self-harm semakin tinggi yang membuat pasien tidak disarankan untuk ditinggalkan sendirian dalam waktu lama.

Penderita skizofrenia tidak hanya akan kehilangan kemampuan untuk berpikir, namun juga kontrol terhadap organ tubuhnya sendiri. Dalam beberapa kasus skizofrenia parah, penderita tidak dapat beraktivitas secara normal karena mengalami kelumpuhan. Ironisnya, kelumpuhan tersebut dapat disebabkan oleh sugesti negatif yang dibangun sendiri oleh pasien bahwa dirinya telah kehilangan kemampuan beraktivitas secara normal padahal sebenarnya tidak ada masalah dengan kesehatan organ tubuhnya.

Mana Yang Lebih Berbahaya Antara Psikosis Dengan Skizofrenia?

Bisa ditarik kesimpulan bahwa psikosis merupakan tahap awal atau fase gejala dari penyakit skizofrenia itu sendiri. Psikosis masih dapat disembuhkan dalam waktu yang relatif singkat dan metode terapi serta pengobatan sederhana. Lagi pula, pasien pengidap psikosis hanya mengalami halusinasi dan delusi sehingga mengalami depresi yang kemudian memicu penyakit lain mengambil alih.

Sedangkan skizofrenia telah mencapai titik di mana pasien harus mendapatkan perawatan intensif, terutama pada penderita yang mulai kehilangan kemampuan untuk memilah informasi secara akut. Pasien skizofrenia juga memiliki kecenderungan untuk melukai diri sendiri bahkan bersikap agresif terhadap orang-orang di sekitarnya yang mencoba mengingatkan hal-hal imajinatif yang dialaminya bukan sebuah realita.

Jadi, dari perbedaan psikosis dan skizofrenia di atas dapat disimpulkan bahwa skizofrenia lebih berbahaya dibandingkan dengan psikosis. Meski demikian, keduanya memerlukan penanganan segera dari tenaga profesional seperti psikiater agar lekas pulih dan dapat beraktivitas seperti sedia kala. Kombinasi pengobatan berupa terapi dan obat-obatan yang dikonsumsi rutin sangat efektif dalam menyembuhkan kedua penyakit psikologis tersebut.

Obat Untuk Mengatasi Skizofrenia

Obat Untuk Mengatasi Skizofrenia

Apa itu skizofrenia? Skizofrenia merupakan keadaan di mana seseorang mengalami gangguan berpikir di mana membuatnya tidak dapat membedakan antara imajinasi dan realita. Untuk pengobatan secara medis, ada beberapa jenis obat untuk mengatasi skizofrenia ini. Karena termasuk dalam kategori penyakit kronis, maka obat harus dikonsumsi secara teratur untuk mencegah penyakit kambuh dalam periode berdekatan.

Obat-obatan Untuk Pengobatan Non-Terapi Skizofrenia

Obat Untuk Penyakit Skizofrenia 1

Untuk pengobatan Skizofrenia di luar terapi dengan menggunakan obat-obatan, hanya ada satu jenis obat yang digunakan, yaitu pemberian obat antipsikotik. Untuk obat berjenis antipsikotik sendiri terbagi menjadi dua kelompok, yakni :

1. Antipsikotik Tipikal

Obat antipsikotik yang termasuk dalam kelompok tipikal adalah obat-obatan antipsikotik generasi pertama yang pada saat ini jarang atau tidak lagi digunakan. Hal itu disebabkan adanya efek samping yang cukup fatal dari jenis obat skizofrenia yang satu ini. Disebutkan bahwa muncul efek gangguan syaraf seperti kejang dan gemetar pada pasien yang mengonsumsi.

Kelebihan dari obat ini adalah harganya yang jauh lebih mahal dibandingkan antipsikotik generasi kedua. Biasanya, obat ini masih diresepkan pada pasien yang baru mengidap gejala skizofrenia agar kondisinya tidak bertambah parah. Namun tetap saja, antipsikotik tipikal tidak boleh digunakan dalam periode waktu yang lama.

2. Antipsikotik Atipikal

Antipsikotik atipikal merupakan obat antipsikotik generasi kedua yang merupakan versi penyempurnaan dari antipsikotik tipikal. Efek samping yang ditemukan pada obat generasi pertama sudah tidak ditemukan, jadi relatif lebih aman untuk diresepkan pada pasien skizofrenia yang membutuhkan perawatan jangka panjang. Sayangnya, harga obat-obatan antipsikotik kelompok atipikal cukup mahal.

Macam-macam Obat Antipsikotik

Obat Untuk Penyakit Skizofrenia 3

Setelah memahami tentang pembagian kelompok antipsikotik sebagai obat untuk mengatasi skizofrenia, berikut ini adalah deretan obat dari kedua kelompok tersebut yang mudah untuk didapatkan di apotek terdekat. Namun perlu diingat bahwa obat skizofrenia hanya dapat ditebus menggunakan resep dokter.

1. Olanzapine

Obat ini masuk dalam kategori obat antipsikotik atipikal yang biasa digunakan untuk menekan efek skizofrenia. Selain untuk pengobatan skizofrenia, Olanzapine juga diberikan pada pasien dengan gangguan kepribadian lainnya, seperti bipolar disorder. Obat ini biasanya menimbulkan efek samping berupa kenaikan berat badan dan pada beberapa pasien mungkin menimbulkan reaksi alergi.

2. Quetiapine

Obat yang satu ini dibutuhkan berkat kandungan zat penenang di dalamnya sehingga penderita skizofrenia memiliki waktu istirahat yang cukup. Obat ini juga termasuk dalam kelompok atipikal, tapi tidak memiliki peranan signifikan lain dan tidak terlalu direkomendasikan untuk pemakaian jangka panjang karena menimbulkan adiksi atau ketergantungan.

3. Ziprasidone

Ziprasidone membantu mengurangi efek halusinasi pada pasien skizofrenia sehingga mereka dapat berpikir lebih jernih dan berperilaku lebih tenang. Obat antipsikotik ini masuk dalam kategori atipikal, namun memiliki catatan kasus alergi yang tinggi sehingga pada tahap awal penggunaan harus benar-benar dipantau.

4. Chlorpromazine

Masuk dalam kategori obat tipikal, saat ini Chlorpromazine hanya diresepkan untuk mereka yang baru mengalami gejala skizofrenia. Obat ini membantu memberikan efek tenang pada pasien sehingga kecenderungan berperilaku agresif atau menyakiti diri sendiri dapat ditekan. Sayangnya, obat ini bereaksi keras terhadap syaraf dan otot sehingga kurang direkomendasikan.

Pemberian obat untuk mengatasi skizofrenia dapat dilakukan dengan dua metode, yakni oral atau langsung dikonsumsi dan melalui injeksi pada kasus pasien terlanjur tidak memiliki kontrol terhadap diri sendiri. Namun tetap saja obat-obatan di atas tergolong kategori obat keras karena berpengaruh langsung pada syaraf, sehingga tidak disarankan untuk pemakaian dalam jangka waktu terlalu lama.

Itulah penjelasan lengkap tentang apa itu skizofrenia, gejalanya dan cara pengobatannya. Jika seseorang telah menunjukkan beberapa gejala penyakit ini maka sebaiknya langsung minum obat sebagai cara penanganan pertama dan kemudian konsultasikan ke dokter.

Jangan sampai Anda berlarut-larut dan membiarkan gejala ini semakin memenuhi pikiran Anda. Jika pikiran Anda telah dipenuhi oleh khayalan atau sesuatu yang tidak nyata maka bisa saja penyakit yang Anda derita semakin parah dan susah untuk dihilangkan. Untuk itu lakukanlah pengobatan jika gejala mulai muncul agar penyakit skizofrenia bisa segera Anda sembuhkan.

Mengulas Lebih Dalam Apa Itu Skizofrenia Dan Cara Mengatasinya

5.0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *